Lompat ke konten utama

Edisi

Edisi — 7 December 2024

26 berita

Edisi ini menampilkan berita pada tanggal 7 December 2024, diurutkan menurut nomor halaman koran (1–12).

September 2025

Kalender edisi September 2025. Tanggal tanpa berita ditandai merah dan tidak dapat dipilih.
Sen Sel Rab Kam Jum Sab Min
1 September 2025 2 September 2025 3 September 2025 4 September 2025 5 September 2025 — tidak ada edisi 6 September 2025 — tidak ada edisi 7 September 2025 — tidak ada edisi
8 September 2025 9 September 2025 10 September 2025 11 September 2025 12 September 2025 13 September 2025 14 September 2025 — tidak ada edisi
15 September 2025 16 September 2025 17 September 2025 18 September 2025 19 September 2025 20 September 2025 21 September 2025 — tidak ada edisi
22 September 2025 23 September 2025 24 September 2025 25 September 2025 26 September 2025 27 September 2025 28 September 2025 — tidak ada edisi
29 September 2025 30 September 2025

Ada edisi Tidak ada edisi

DHIMA WAHYU SEJATI Bioskop sempat mengalami ke­munduran pada dekade awal 2000-an ketika kegiatan me­non­ton film beralih ke media digi­tal dan televisi. Belakangan, bisnis bios­kop terlihat merebak lagi dengan kembali­nya bioskop ke kota-kota kabupaten. Yang terbaru adalah jaringan bioskop Sam’s Studios yang di Soloraya ini dibuka di Klaten dan Colomadu, Karanganyar. Kemunculan bioskop baru di wilayah So­loraya ini pun diharapkan mampu menjadi ruang untuk mendistribusikan film komunitas dari para sineas lokal. Pimpinan komunitas film Sinema Warga, Ratmurti Mardika, mengatakan kemun­culan bioskop baru tersebut menjadi ge­jala positif bagi perkembangan indus­tri. “Bis­nis film, terutama ekshibisi, mu­lai dili­rik pencari cuan,” kata pria yang akrab disapa Sonkski itu ketika dihu­bungi Espos, Jumat (6/12/2024). Bertambahnya bioskop baru diharapkan­nya memberikan alternatif lain. Selama ini film yang disajikan cenderung se­ragam sehingga masyarakat tidak punya banyak pilihan, termasuk alternatif bioskop di luar jejaring besar. BERSAMBUNG ke Hal. 8 [Sambungan dari hal 1] “Pada prinsipnya, semakin banyak pemain akan menghalau praktik monopoli. Saya percaya itu akan baik untuk ekosistem perfilman,” kata dia. Komunitas film lokal menurut dia juga bisa memanfaatkan tren ini. Pengajar film di UIN Raden Mas Said ini menyebut bioskop di Soloraya perlu be­ker­ja sama dengan mahasiswa. Menurutnya mahasiswa di Solo sangat produktif membuat karya berupa film pendek. Ada yang memang untuk memenuhi tugas mata kuliah, namun ada juga yang memproduksi film secara mandiri. Mereka tentu perlu tempat untuk mempertontonkan hasil karya kepada publik. “Membayar sewa studio ya mau asal jangan disamakan dengan level film Hollywood. Pasar film untuk segmen mahasiswa itu besar, jadi seharusnya enggak akan rugi kalau mereka [pengelola bioskop] kerja sama dengan komunitas-komunitas film lokal,” kata dia. Sementara sineas asal Solo yang juga pendiri komunitas film Kembang Gula, Fanny Chotimah, mengatakan semakin banyaknya jumlah bioskop di wilayah Soloraya bisa menambah peluang untuk mendistribusikan film-film dari komunitas. “Kan jumlah layar [tempat pemutaran film] di Indonesia itu masih kurang, misalnya kehadiraran bioskop besar hanya ada di kota-kota besar,” kata dia. Dia berharap dengan muncul­nya bioskop baru di wilayah So­loraya komunitas film juga tu­rut diwa­dahi. Terutama ada kesempatan agar film karya ko­munitas bisa nangkring di bioskop dengan skema sharing tiket atau royalti. Dengan begitu, produktivitas para sineas dalam menghasilkan karya pun ikut meningkat. Sehingga bisa terus produksi karya dan mampu mendongkrak industri film lokal. Saat ini film komunitas ter­bilang cukup sulit untuk ta­yang di bioskop. Dia mengambil contoh bioskop yang sudah jamak seperti XXI saja sangat kompetitif. Tidak semua film bisa diputar di XXI. “Nah itu banyak film yang gagal diputar [di bioskop] mau ke mana. Jadi belum tahu akan berdampak apa [kehadiran bioskop baru di Soloraya] untuk komunitas, akahkan kami dapat ruang,” kata dia. Anggota Komisi X DPR yang juga terkenal sebagai pemusik, Melly Goeslaw, pernah memberikan catatan penting kepada pemerintah terkait durasi tayang film-film berkualitas, khususnya film bergenre seni yang dinilai sering kali diturunkan dari layar bioskop dengan cepat. Melly menekankan perlunya dorongan dari pemerintah ke­pada pengelola bioskop untuk memberikan ruang lebih baik bagi film-film seni agar masyarakat memiliki lebih banyak kesempatan untuk menikmati karya-karya film yang memiliki nilai artistik dan kualitas tinggi. ”Menurut saya, sudah saatnya pemerintah juga push [mendorong] kepada pihak bioskop untuk memberikan tempat yang lebih panjang lagi, ruang yang lebih baik untuk film-film art seperti ini sehingga banyak masyarakat yang mempunyai kesempatan untuk menyaksikannya,” kata Melly. Melly juga menyoroti perlunya perhatian dari pebisnis bioskop untuk memberikan durasi tayang yang lebih panjang bagi film-film berkualitas. Dia mencontohkan kebijakan di India yang memberi­kan prioritas kepada film-film lokal berkualitas dibandingkan film-film impor. “Yang aku tahu, di India ada kebijakan kalau ada film yang bagus secara kualitas, bukan secara komersial, lebih mengutamakan film lokalnya. Mudah-mudahan di sini bisa seperti itu,” ucap Melly Goeslaw. (R. Bambang Aris Sasangka/Antara)

Utama ·

DHIMA WAHYU SEJATI  Bioskop sempat mengalami ke­munduran pada dekade awal 2000-an ketika kegiatan me­non­ton film beralih ke media digi­tal dan televisi. Belakangan, bisnis bios­kop terlihat merebak l...