Lompat ke konten utama

Edisi

Edisi — 7 November 2014

112 berita

Edisi ini menampilkan berita pada tanggal 7 November 2014, diurutkan menurut nomor halaman koran (1–12).

November 2014

Kalender edisi November 2014. Tanggal tanpa berita ditandai merah dan tidak dapat dipilih.
Sen Sel Rab Kam Jum Sab Min
1 November 2014 2 November 2014
3 November 2014 4 November 2014 5 November 2014 6 November 2014 7 November 2014 8 November 2014 9 November 2014 — tidak ada edisi
10 November 2014 11 November 2014 12 November 2014 13 November 2014 14 November 2014 15 November 2014 16 November 2014
17 November 2014 18 November 2014 19 November 2014 20 November 2014 21 November 2014 22 November 2014 23 November 2014
24 November 2014 25 November 2014 26 November 2014 27 November 2014 28 November 2014 29 November 2014 30 November 2014

Ada edisi Tidak ada edisi

SOLO—Menyusul rencana program sertifikasi lulusan sekolah menengah kejuruan (SMK), sejumlah sekolah melakukan standarisasi mutu. Kendati demikian, jumlah SMK di Indonesia yang mencapai 11.720 sekolah, menyebabkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) tak bisa sekaligus menyelenggarakan sertifikasi. Langkah strategis yang dilakukan adalah membentuk kluster SMK rujukan, yang menjadi koordinator lima hingga 10 SMK kecil di sekitarnya. Direktur Pembinaan SMK Dirjen Pendidikan Menengah Kemendikbud, Mustaghfirin Amin mengatakan, selain bertugas sebagai koordinator, SMK rujukan juga berfungsi menjadi quality control dan quality assurance bagi SMK lain-nya. “SMK rujukan bertugas menjamin mutu SMK-SMK di sekitarnya. Dengan jumlah total 11.720 sekolah, kami memiliki 1.650 SMK rujukan,” kata dia kepada wartawan di Hotel Novotel, Solo, Kamis (6/11). Mustaghfirin memaparkan ada sejumlah kriteria yang harus dipenuhi SMK agar dapat ditetapkan menjadi SMK rujukan. Diantaranya, memiliki siswa lebih dari seribu orang. Kemudian jumlah guru produktif lebih dari 75 orang, lahan yang siap dikembangkan seluas lebih dari 5.000 meter persegi, serta memiliki jaringan kerjasama dengan industri. Syarat berikutnya adalah fasilitas sarana pembelajaran yang baik, letak sekolah strategis, kinerja baik termasuk di ujian nasional (unas), dan menguasai dua bahasa asing. Mustagfirin mengatakan sekolah-sekolah yang ditetapkan menjadi SMK rujukan ini nantinya tidak hanya mencerdaskan siswanya sendiri. Tetapi mereka dituntut untuk memiliki lima sampai10 unit SMK aliansi. “Saat ini kami punya 128 paket keahlian dan dibuka sesuai dengan kebutuhan masyarakat yang ada di lingkungan sekitarnya,” tutur dia. Kepala SMK Negeri 2 Solo, Susanta, membenarkan bahwa sekolah yang dipimpinnya menjadi salah satu sekolah rujukan. Karena itulah, SMK lainnya bisa mempergunakan fasilitas belajar-mengajar di SMK Negeri 2. (Mariyana Ricky P.D.)

humaniora ·