Lompat ke konten utama

Edisi

Mingguan Keluarga

3,711 berita
Semua Rubrik 180

Opor, ketupat, gulai daging ayam/sapi, aneka es, jajanan, dan kue serba manis sudah pasti jadi tradisi pelengkap nuansa Lebaran. Semua menu itu jelas merayu selera terlebih setelah selama sebulan melakukan puasa. Tak jarang di antara kita “mengamuk” memakan semua makanan sehingga lupa diet yang tengah dijalani. Untuk mereka yang tak punya gangguan kesehatan mungkin tak begitu bermasalah, tapi bagaimana bagi pengidap gangguan kesehatan tertentu seperti asam urat, kencing manis atau hipertensi? Nekat mengonsumsi makanan tersebut dalam porsi berlebih bukannya rasa enak yang didapat, tapi sakit yang didapat. Seperti dikutip keluarga sehat.com Untuk menghindari “aksi balas dendam” ini Anda harus pintar-pintar mengatur pola makan. Jangan asal menyantap apa yang disajikan di meja makan. Untuk penderita diabetes, lebih baik mengonsumsi makanan sesuai kebutuhan, di mana asupan karbohidrat dan protein harus sesuai takaran, kurangi makanan yang manis-manis. Tahan keinginan mengonsumsi berlebihan pada sirup atau puding dengan rasa manis berlebih. Nasi boleh Anda konsumsi, tapi jangan berlebihan. Batasi makan masakan daging berlemak dan gorengan, dan jangan lupa konsumsi sayur serta buah segar. Sama halnya bagi penderita diabetes, mereka yang mengidap hipertensi juga harus menahan menikmati makanan berlemak tinggi, makanan asin-asin, makanan yang diasinkan dan diawetkan, dan makanan yang bersifat “panas” seperti daging kambing. Penderita asam urat juga harus menahan diri dari godaan sajian lebaran seperti jeroan (usus, limpa, paru, hati, jantung, dan otak), juga kacang-kacangan, selain itu perbanyak minum air putih karena air membantu mengeluarkan asam urat melalui urine. Sebenarnya bukan makanan yang harus kita permasalahkan, tapi bagaimana kita bisa membatasi diri dari makanan “berbahaya” tersebut, dan menahan diri dari godaan agar penyakit yang diderita tidak kambuh dan bertambah berat. ”Godaan” tak hanya dialami mereka yang mengidap penyakit tertentu, namun juga mereka yang tak bisa mengontrol selera makan dan mengonsumsi setiap menu yang disajikan. Bisa jadi perilaku sembrono tersebut membuat badan makin melar melebihi kondisi sebelum Ramadan, dan jika terus dibiarkan bisa memengaruhi stamina. Namun, bukan berarti tidak ada cara untuk mengembalikan kondisi tubuh ke keadaan semula. Kembali mengonsumsi makanan dengan menu seimbang adalah langkah agar tubuh kembali ke kondisi awal, dan cara paling efektif adalah mengurangi asupan kalori lebih sedikit dari yang dibutuhkan tubuh. Karena jumlah kalori masuk kurang dari kandungan yang dibutuhkan pada proses pencernaan makanan, maka tubuh akan menutupi kekurangan ini dengan mengambilnya dari lemak di dalam tubuh. Untuk konsumsi kalori yang sifatnya “negatif” tersebut disarankan mengonsumsi buah dan sayur, karena selain memiliki kalori negatif, buah juga kaya serat. Dari semua perilaku mengatur pola makan, satu hal yang wajib dilakukan adalah berolahraga dan perbanyak aktivitas fisik. q

Mingguan Keluarga ·